Indonesia menghadapi transisi epidemiologi dalam masalah kesehatan, dimana penyakit menular belum dapat teratasi, sedangkan penyakit tidak menular cenderung meningkat disertai munculnya penyakit infeksi  new emerging maupun re-emerging. Dalam kurun waktu 3 dekade terakhir ini prevalensi penyakit tidak menular terus meningkat dari 37% tahun 1990 menjadi 57% tahun 2015. Tren tersebut kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup yang tidak sehat antara lain merokok, pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktifitas fisik dan stress.

Penyakit tidak menular juga telah menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Berdasarkan SRS (Sistem Registrasi Sampel) tahun 2014 lima penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah: Stroke (2,1%), Jantung (12,9%), Diabetes (6,7%), TBC (5,7%) dan Hipertensi (5,3%).

Penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, stroke, dan penyakit paru kronik, mempunyai faktor risiko yang umumnya sama, yaitu merokok, diit yang tidak sehat dan seimbang, kurangnya aktifitas fisik serta konsumsi alkohol. Adanya salah satu faktor risiko tersebut, misalnya merokok mengakibatkan seseorang mempunyai risiko terjadinya penyakit tidak menular tersebut. Meningkatnya prevalensi perokok di Indonesia juga menimbulkan terjadinya peningkatan penyakit tidak menular lainnya seperti Asma, PPOK dan mempercepat timbulnya Penyakit Psoriasis dan Penyakit Lupus Eritematosus Sistemik (LES).

Pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan RI menerapkan kebijakan Program Pengendalian Penyakit yang melibatkan berbagai pihak yaitu: masyarakat, pemerintah, organisasi/ swasta dan profesi. Kebijakan Kemenkes dalam pengendalian penyakit Asma, PPOK dan Gangguan Imunologis adalah melalui pendekatan pelayanan kesehatan yang komprehensif, terintegrasi, berkualitas, terjangkau dan berkesinambungan termasuk sistem rujukan, surveilans epidemiologi. Disamping itu juga melakukan pengembangan pendekatan kemitraan dan jejaring, peningkatan peran pemerintah daerah; pengembangan sistem rujukan, surveilans dan epidemiologi.

Program pengendalian Penyakit Asma, PPOK dan Gangguan Imunologis dapat dilaksanakan baik permerintah maupun lintas sektor dan program terkait,  mencakup: pengendalian faktor risiko penyakit secara terintegrasi berbasis kelompok masyarakat aktif, deteksi dan tindak lanjut dini, pengendalian dan pelayanan kasus penyakit Asma, PPOK dan Gangguan Imunologis sesuai standar, Pengembangan tatalaksana rujukan kasus serta akselerasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

 

 

 

 

 

 

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Leave a Reply