Makassar – Dalam rangka membahas keragaan dan keragaman iklim ekstrim, terutama di wilayah monsunal dan lokal Indonesia dan implikasinya; mengevaluasi progres kegiatan litbang analisis dan pengembangan sistem informasi sumber daya iklim dan air untuk antisipasi dan adaptasi iklim ekstrim dan perubahan iklim; mempertajam analisis dan metodologi penelitian terkait pengelolaan iklim ekstrim; serta mendapat umpan balik dan masukan tentang teknologi pengelolaan iklim dan air untuk antisipasi terhadap iklim ekstrim.

Maka dari itu Balitklimat melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengadakan seminar nasional dan forum grup diskusi yang diikuti peserta dari: Perguruan Tinggi, KLHK, BPPT/Ristek, LIPI, BMKG, LAPAN, BIG, Pemerintah Daerah (Bappenda dan Diperta), BUMN, LSM, Swasta, Kementerian Pertanian, Masyarakat yang memiliki kepedulian dan perhatian terhadap perubahan iklim, dan lain-lain.

Semnas dan FGD ini mengedepankan “Upaya Khusus Optimalisasi Sumber Daya Air Lahan Kering 4 Juta Ha untuk Meningkatkan serta Mengamankan Luas Tanam dan Produksi pada Kondisi Iklim Ekstrim”. Pada hari pertama dilaksanakan Soft Opening yang dilakukan oleh Kepala Balai Besar Sumber Daya Litbang Pertanian (BBSDLP) Dr. Dedi Nursyamsi.

Ada 2 sesi Sidang Pleno antara lain: Sidang Pleno I “Pengelolaan Iklim dan Air dalam Menghadapi Iklim Ekstrim” dengan pembicara: 1) Prof. Budi I Setiawan, Arah dan Strategi Pengelolaan Air dalam Menghadapi Iklim Ekstrim; 2) Dr. Dedi Nursyamsi, Pengembangan Teknologi Hemat Air; 3) Prof. Irsal Las, Pengelolaan Iklim Ekstrim untuk Budidaya Pertanian; 4) Prof. Djafar Baco, Pengelolaan Iklim melalui Kearifan Lokal untuk Pengembangan Pertanian. Sedangkan Sidang Pleno II “Topik Khusus Pengelolaan Iklim Ekstrim” dengan pengantar program: 1) Sistem Informasi dan Komunikasi Prediksi Iklim; 2) Analisis Kerentanan Pangan; 3) Pemetaan Wilayah Rawan Kebakaran Lahan; 4) Pengelolaan Air di Lahan Rawa Lebak; 5) Pengelolaan Sumber Air; 6) Pengembangan Wilayah IP300. Dengan pembahas Dr. Rino Rogi dari Perhimpi Sulawesi Utara, Prof Kaimuddin dari Perhimpi Sulawesi Selatan, Prof. Hidayat Pawitan dari Institut Pertanian Bogor, dan Prof Bustomi Rosadi dari Perhimpi Lampung, serta diakhiri dengan diskusi.

sumber: http://balitklimat.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1322:temu-lapang-dan-ekspose-teknologi&catid=5:seminarlokakarya&Itemid=62

Leave a Reply