Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Balitbang PUPR) memiliki cita-cita besar untuk mengoptimalkan perairan menjadi bagian dari infrastruktur, yaitu dengan cara memanfaatkan gaya apung air. Balai warga dan perpustakaan terapung yang terletak di Tambak Lorok, Semarang, Jawa Tengah merupakan hasil riset dan sinergi bersama di Balitbang dengan melibatkan peneliti-peneliti dalam bidang sumber daya air, jalan dan jembatan, perumahan dan permukiman, serta kebijiakan dan penerapan.

img_6400 img_6458

lnfrastruktur ini dibuat berdasarkan kebutuhan masyarakat (user need) dan sebagai langkah awal untuk mewujudkan kampung bahari atau kampung maritim di pesisir utara Semarang yang selama ini mengalamideformasi tanah yang cukup signifikan.

Seperti yang kita ketahui lndonesia memiliki wilayah yang 2/3 bagiannya merupakan perairan. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang pengembangan teknologi yang memanfaatkan ruang perairan. Teknologi apung yang dikembangkan oleh Balitbang Kementerian PUPR disebut dengan Sistem Modular Wahana Apung (Simowa). Adapun teknologi Simowa telah diterapkan antara lain pada balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambak Lorok, pemecah gelombang apung di candidasa Bali dan jembatan apung Cilacap yang akan diresmikan dalam waktu dekat.

Setelah menjalani proses konstruksi kurang dari 1 (satu) tahun, akhirnya balai warga sekaligus bangunan perpustakaan apung pertama di lndonesia yang berlokasi di Tambak Lorok, Semarang ini diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (25/11).

Menteri Basuki mengatakan bahwa dengan dibangunnya balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambak Lorok ini merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan inovasi di bidang pembangunan infrastruktur yang memanfaatkan segala keunggulan yang dimiliki.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat harus mendorong penerapan budaya inovatif dalam aktivitas perkantoran sehari-hari. Adanya inovasi akan memunculkan ide-ide baru serta memberikan penyegaran bagi Kementerian dalam memberikan pelayanan infrastuktur. lnovasi .juga akan dapat menjadi solusi untuk berbagai permasalahan di bidang infrastruktur.

lnovasi hunian apung yang dikembangkan oleh Balitbang PUPR ini memiliki konsep bangunan ramah lingkungan, mandiri dalam kebutuhan energi, dan tidak mencemari lingkungan. Sedangkan secara fungsinya, Rumah Baca dan Balai Pertemuan Warga Terapung Tambak Lorok ini dirancang dengan konsep menyatukan kebutuhan pertemuan warga, perpustakaan hingga penyampaian informasi pemerintahan di kawasan tersebut.

 

img_6314Balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambak Lorok dibangun di atas ponton (wahana apung) berukuran 10 m x 14 m dengan bahan stereofoam dan beton. Bangunan ini juga dilengkapi self energy dengan menggunakan solar panel. Selain itu untuk memenuhi kebutuhan air bersih dalam bangunan ini juga dipasang destilator yang dapat mengubah air laut menjadi air bersih. Sedangkan untuk pembuangan menggunakan Biofil yang merupakan teknologi Balitbang.

Melalui inovasi di bidang teknologi hunian apung ini, kondisi di kawasan sepertl Tambak Lorok yang mengalami penurunan permukaan tanah (lond subsidencel dan menjadi langganan banjir rob, diharapkan jadi model penataan hunian di kawasan untuk mengatasi masalah tersebut.

Dari segi fungsi, lantai 1 bangunan apung ini akan digunakan untuk Balai Warga, yaitu seluas 128 m2, dan kamar mandi seluas 6 m2. Sedangkan lantai 2 digunakan untuk perpustakaan dengan luas 72 m2,. Perpustakaan apung ini sudah dilengkapi 300 buku untuk anak-anak dan remaja.

 

lnovasi di bidang teknologi infrastruktur harus dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada. Dengan dibangunnya balai pertemuan warga dan perpustakaan terapung Tambak Lorok, diharapkan dapat menjadi wadah pengenalan untuk masyarakat pada hunian terapung. Sehingga kedepannya, inovasi hunian apung ini juga bisa diterapkan dan ditata juga sebagai permukiman terapung warga sebagai solusi penurunan muka tanah dan banjir rob di kawasan ini.

 

Kepala Badan Litbang PUPR Danis H Sumadilaga menyatakan bahwa bangunan apung ini menjadi bangunan apung pertama di lndonesia yang diharapkan akan menjadi etalase atau percontohan untuk bangunan-bangunan apung lainnya di lndonesia.

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Leave a Reply